• SMA NEGERI 1 AMFOANG TENGAH
  • Where Tomorrow's Leaders Come Together

NTT Saat Ini dan yang Akan Datang

NTT  adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribu kota Kupang dan terdiri dari 22 kabupaten/kota. NTT memiliki 50 jenis busana adat, 18 suku bangsa, 69 bahas daerah dan ribuan motif tenun sehingga dari hal tersebut menjadikan NTT kaya akan budaya. Disetiap kecamatan yang ada di NTT minimal memiliki satu ciri khas tenunan. Dengan penduduk 5.456.000 jiwa NTT juga terkenal sebagai daerah kepulauan yang memiliki ratusan pulau baik yang telah berpenghuni maupun yang belum berpenghuni.

Diantara pulau-pulau yang telah berpenghuni, di utara ada pulau Flores yang yang terbentang dari wilayah kabupaten Manggarai Barat sampai Kabupaten Flores Timur, pulau Lembata di wilayah Kabupaten Lembata, Pulau Alor di wilayah Kabupaten Alor, di bagian Selatan ada pulau Rote di wilayah Kabupaten Rote Ndao, pulau Sabu di wilayah Kabupaten Sabu Raijua, Pulau Sumba yang membagi empat wilayah Kabupaten, Pulau Timor yang terbagi dalam enam wilayah kabupaten/kota serta ratusan pulau lainnya yang belum berpenghuni.

Wilayah NTT secara geografis terletak di antara BB 1180 dan 1250, BS 1180 dan 1250, dan BT 80 dan 120. Dari letak geografis ini, NTT sangat strategis karena berbatasan langsung dengan dua negara yaitu Australia dan Timor Leste. Dalam memperkuat posisi strategis ini, pemerintah pusat dan daerah secara gencar menggerakan infrastruktur, pembangunan jalan trans  Amfoang, pembangunan bendungan Rotiklot di Belu, pembangunan Pos Lintas Batas Negara(PLBN) di Wini TTU, Bendungan Raknamo di kabupaten Kupang, bendungan Manikin yang sementara dikerjakan, adalah langkah-langkah konkrit pemerintah untuk mempercantik wilah NTT.

Melalui visi bapak Gubernur dan wakil Gubernur NTT periode 2018-2023, “NTT Bangkit Mewujudkan Masyarakat Sejahtera Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia” menunjukan keseriusan pemerintah provinsi untuk memajukan NTT. Diresmikannya bendungan Napun Gete di Sikka dan lumbung pangan nasional di Sumba oleh bapak presiden Jokowi merupakan bentuk dukungan rill pemerintah pusat untuk NTT.

Ada harapan bagi NTT bangkit mewujudkan masyarakat sejahtera, harapan ini yang harus terus digaungkan dan dihidupi. Salah satu gebrakan nyata duet Gubernur-wakil Gubernur NTT, bapak Viktor Bungtilu Laiskodat dan bapak Josef A. Nae Soi adalah mewajibkan para ASN lingkup Pemprov NTT untuk setiap selasa dan jumat menggunkan tenun ikat khas NTT, di samping melestarikan budaya tenun ikat NTT sekaligus mempromosikan tenun ikat NTT untuk dikenal pada skala nasional dan dunia. Tidak ada yang menyangka pada sidang umum MPR tanggal 14 Agustus 2020 presiden Jokowi menggunakan pakaian adat lengkap dari Sabu Raijua dilanjutkan pada Uapacara HUT RI ke 75, presiden menggunakan pakaian adat lengkap dari TTS dan pada festival Tenun Ikat Sumba tahun 2017 silam presiden menggunakan pakaian adat Sumba lengkap. Sungguh suatu kebanggan besar bagi masyarakat NTT tenun ikat yang dihasilkan dapat dipakai oleh seorang Kepala Negara.

Di samping kaya akan hasil tenun ikat dari berbagai daerah di NTT, tentu dibidang pariwisata NTT tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya. Masih diingat pada 2013 lalu pulau Komodo menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia, di samping membawa harum nama Indonesia di dunia luar, NTT makin dikenal pada tingkat nasional dan dunia. Pulau komodo dikemas pemerintah Provinsi NTT menjadi wisata premium yang sangat menarik banyak minat wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara untuk mengunjunginya.

Selain pulau komodo di Manggarai Barat, di pulau Sumba ada padang Savana yang sangat luas, festival Kuda Sandalwood, resor terbaik dunia Nihiwatu menjadi wisata kelas dunia lainnya yang dimiliki NTT. Desa Waerebo di kabuapaten Manggarai juga menyimpan keindahan serta keunikan dengan adanya 7 buah rumah bulat berujung runcing dan terletak di atas ketinggian 1200 mdpl, danau Kelimutu atau dikenal dengan sebutan danau Tiga Warna(biru-merah-hijau) terbentuk dari hasil letusan gunung berapi ratusan tahun yang lalu. Danau ini secara alamiah berubah-ubah warnanya sehingga membuat danau ini masuk dalam destinasi utama wisatawan yang datang berkunjung ke NTT.

Untuk wisata bahari, NTT memiliki Pantai Nembrala yang indah terletak di pulau Rote, tempat para peselancar kelas dunia melakukan aktivitas berselancar mereka dengan menikmati pasir putih yang indah. Kellaba Maja di Sabu Raijua dinobatkan sebagai Surga Tersembunyi terpopuler dan meraih juara I dalam Anugerah Pesona Indonesia(API) 2018, ini mengindikasikan bahwa NTT sangat menjanjikan di bidang pariwisata.

Yang mungkin sedikit terlupakan, kabupaten Kupang khususnya wilayah Amfoang Tengah akan menjadi destinasi wisata baru dan ikon wisata NTT di mata dunia dengan dibangunnya Observatorium Timau, observatorium terbesar se-Asia Tenggara dan area sekitar dijadikan tempat wisata langit gelap yang memungkinkan para pengunjung menikmati keindahan langit di galaksi kita dengan mata telanjang. Hal-hal yang diuraikan mengenai pariwisata di NTT ini adalah sebagian kecil dari begitu banyaknya destinasi wisata di NTT.

Untuk makanan dari NTT, yang telah cukup di kenal luas adalah daging Se’i. Proses pengolahan daging ini adalah daging diasapi menggunakan arang dari pohon kusambi kemudian di atas daging ditutupi oleh daun kusambi tersebut sehingga menjadikan hasil olahan daging tersebut berubah warna menjadi cokelat kemerahan khas NTT. Dada kue rambut dan kenari dari Alor. Gula Hela, gula semut dari rote, jagung bose dan jagung katemak dari Timor dan masih banyak lagi makanan khas NTT yang tentunya sangat lezat untuk dinikmati. Yang terbaru dan sementara digalakan adalah budidaya Moringa Olefera atau lebih familiar dikenal dengan tanaman kelor. Tanaman kelor tumbuh subur di wilayah NTT dengan dataran yang kering. Pemerintah provinsi NTT mencanagkan NTT sebagai provinsi kelor sehingga sangat masif dibudidayakan di hampir  seluruh wilayah NTT. Dengan teknologi yang ada saat ini, moringga olefera dapat dijadikan produk olahan sehat seperti: teh celup kelor, cokelat kelor, minyak biji kelor, cookies kelor, dodol kelor, serbuk kelor hingga digunakan juga untuk produk kosmetik.

Dari kekayaan alam yang indah, pariwisata, tenun ikat serta makanan khas yang ada, NTT saat ini masih bergelut dengan masalah pendidikan, kemiskinan, gisi buruk, stunting dan yang terbaru pandemi Covid-19, ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang harus di tuntaskan.

Teringat akan pernyataan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dalam pidato pada Diesnatalis Undana:’’tidak punya satu harapan satu menit saja, mati. Karena itu harapan itu begitu besar. Kita sering menonjolkan kekurangan dan kelemahan kepada pihak luar, provinsi termiskin lalu kita lupa menunjukan kita punya provinsi begitu indah, begitu hebat. Saya ingin agar kita menjadi bagian kelompok besar gerakan membangun harapan Nusa Tenggara Timur,  menatap masa depan provinsi ini yang patut kita banggakan”.

Menurut Snyder (Carr, 2004:90), harapan adalah kemampuan untuk merencanakan jalan keluar dalam upaya mencapai tujuan walaupun adanya rintangan, dan menjadikan motivasi sebagai suatu cara dalam mencapai tujuan. Edwards (dalam Lopez, 2009) menyatakan harapan adalah suatu mental yang positif yang akan meningkatkan kemampuan seorang individu untuk mencapai tujuan di masa depan. Menurut Edwars dkk(dalam Josep & Linley, 2004), harapan mencerminkan persepsi individu terkait kapasitas mereka untuk mengkonseptualisasikan  tujuan secara jelas, mengembangkan strategi spesifik untuk mencapai tujuan tersebut(pathways thinking), menginisiasi dan mempertahankan motivasi untuk menggunakan strategi tersebut(agency thinking). Berdasarkan uraian para tokoh di atas tentang harapan dapat diambil simpulan bahwa harapan adalah suatu keadaan mental yang positif tentang kemampuan mencapai tujuan dimasa depan dengan dua komponen pathway thinking dan agency thinking yang saling melengkapi dan timbal balik untuk mempertahankan dan mencapai tujuan yang individu inginkan untuk dibuat dan dilakukan.

Mari kita menjadi agen harapan untuk Nusa Tenggara Timur yang kita cintai ini. Selalu ada masa depan yang lebih baik bagi setiap individu di NTT yang memiliki harapan dalam dirinya. Mari bekerja keras, bekerja cerdas dan berintegritas meyongsong NTT 4.0.

 

Penulis: Hengky Rifkyan Djita, S.Si. (Guru Matematika SMAN 1 Amfoang Tengah, Kab. Kupang)

 

Komentari Tulisan Ini